Ramadan terasa begitu cepat, baru kemarin kita sibuk mencari jadwal imsak, kini aroma kemenangan sudah tercium. Ramadan itu seperti tamu agung: datang sebentar, lalu pamit. Dan kita, sebagai tuan rumah, harus jujur bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita melayani tamu itu dengan baik? Atau jangan-jangan kita hanya sibuk di dapur, sibuk di toko baju, sementara hati masih dibiarkan berdebu.

Saya teringat cerita seorang ustadz tentang almarhumah ibunya. Begitu masuk sepuluh hari terakhir Ramadan, beliau cerewet bukan main. Cerewetnya bukan soal dunia saja, tapi cerewet yang penuh makna. Kue semprit harus matang, iya. Tapi sajadah juga harus dicuci wangi. Kata beliau:

“Nak..! Kalau mau menghadap Allah di hari raya, masa aromanya masih aroma keringat yang kemarin-kemarin?”

Kalimat sederhana, tapi dalam sekali. Pesan itu jelas, Idul Fitri bukan sekadar penampilan luar, tapi kesiapan batin menghadap Sang Khaliq. Kita boleh sibuk dengan baju baru, tapi jangan lupa hati juga harus “baru.”

Untuk bapak-bapak dan ibu-ibu, urusan pertama tentu zakat fitrah. Jangan ditunda sampai mepet takbiran. Imam Waki’ bin al-Jarrah pernah berkata dalam al-Majmū‘ Sharh al-Muhadzdzab karya Imam al-Nawawi: “Zakat al-Fitr bagi Ramadan seperti sujud sahwi bagi shalat.” Indah sekali perumpamaan itu. Kalau puasa kita ibarat kain putih, zakat fitrah adalah benang yang menutup celah-celah kecilnya.

Dan nanti malam, ketika takbir mulai bergema, jangan malah sibuk di jalan raya atau sekadar nonton kembang api. Imam Asy-Syafi’i berpesan: hidupkan malam Id. Supaya hati kita tidak ikut mati di tengah euforia dunia. Sambil mengaduk rendang atau menata toples, jangan lupa lisan tetap bertakbir. Bayangkan, suara takbir itu seperti alunan musik surgawi. Kalau kita ikut melantunkan, hati jadi ikut bergetar.

Untuk anak-anak, jangan hanya diajarkan bangga dengan baju baru. Idul Fitri itu panggung pendidikan karakter. Ajak mereka terlibat. Misalnya, sebelum berangkat shalat Id, panggil pelan-pelan: “Nak, nanti sebelum shalat makan kurma dulu ya, bilangan ganjil. Satu, tiga, atau lima butir.”

Kenapa? Karena begitu Rasulullah SAW memberi teladan. Dalam Shahih Bukhari (Hadits No. 953) disebutkan:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat pada pagi hari Idul Fitri hingga beliau memakan beberapa butir kurma, dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil.”

Hal kecil, tapi menanamkan cinta Sunnah sejak dini. Jangan sampai anak-anak kita hanya hafal nama game di HP, tapi lupa sunnah Nabi. Lebaran adalah saat yang tepat untuk menanamkan adab, bukan sekadar membagi angpao.

|Klik untuk mengetahui kegiatan Yaa Bunayya

Untuk Pelajar dan Mahasiswa ada dua jurus penting. Pertama, selesaikan tugas sekolah atau kuliah sebelum hari raya. Supaya libur nanti benar-benar plong, tidak ada beban akademik yang menghantui. Kedua, jadikan momen silaturahmi sebagai laboratorium sejarah. Dekati kakek, nenek, atau paman. Tanya silsilah keluarga, cerita masa lalu, asal-usul kampung. Itu cara belajar sejarah yang hidup.

Syekh Al-Zarnuji dalam Ta‘lim al-Muta‘allim Ṭarīq at-Ta‘allum mengingatkan: jeda belajar itu untuk mengumpulkan energi kembali, maka gunakan liburan ini untuk sowan guru juga, menjaga sambungan batin demi keberkahan ilmu. KH Hasyim Asy’ari dalam Adab al-‘Ālim wa al-Muta‘allim menekankan pentingnya sowan guru. Jadi jangan hanya sowan ke mall, sowanlah ke guru.

Hari raya juga saatnya saling mendoakan dan memohon maaf. Beberapa bentuk doa dan ucapan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari  Pertama, ucapan sesuai sunnah, yakni Taqabbalallahu minna wa minkum — doa ini diriwayatkan dari para sahabat Rasulullah SAW, seperti Jubair bin Nufair. Artinya: “Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan amal ibadah kalian.”. Kedua, ucapan tradisi lokal, yakni Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Tidak ada dalil khusus, tetapi termasuk bentuk tahniah (ucapan selamat) yang hukumnya mubah. Tujuannya menjaga silaturahmi dan mempererat persaudaraan. Ketiga, gabungan doa dan ucapan, yakni,,”Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin, Taqabbalallahu minna wa minkum. Bentuk ketiga ini merupakan upaya seorang muslim tetap mengikuti sunnah sekaligus menjaga tradisi lokal yang penuh makna.

Lalu, bagaimanakah seorang muslim berucap dan berdoa pada hari raya Idul Fitri? Hadis riwayat Imam Ahmad menyebutkan bahwa para sahabat Rasulullah Sallalllahualaihi wasallam mengucapkan doa Taqabbalallahu minna wa minkum di hari raya. Sementara itu, Al-Qur’an Surah Yunus ayat 58, menegaskan: “Katakanlah (Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”. Berdasarkan Hadits dan ayat tersebut, maka urutan terbaik adalah memulai dengan doa sunnah Taqabbalallahu minna wa minkum, lalu menambahkan ucapan lokal Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin untuk memperkuat silaturahmi.

Semua ucapan Idul Fitri hukumnya boleh, selama tidak mengandung hal yang bertentangan dengan syariat.Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Laṭā’if al-Ma‘ārif berpesan:

“Bukanlah Id bagi orang yang mengenakan pakaian baru, namun Id adalah bagi orang yang ketaatannya bertambah.”

Saat hari raya Idul Fitri, kaum muslim dipersilakan mengenakan pakaian terbaik, berhias seperti Ibnu Umar sebelum shalat Id. Tapi ingat, kalau setelah lebaran shalat kita masih bolong-bolong, kesombongan makin tinggi, jangan-jangan kita hanya merayakan “hari baju baru,” bukan Idul Fitri yang hakiki. Mari kita tata semuanya. Bersihkan rumah, siapkan hidangan, peluk keluarga. Tapi yang paling utama, cuci hati dengan maaf. Biarkan Idul Fitri tahun ini jadi garis start baru. Jangan sampai kita kembali ke kebiasaan lama yang buruk. Lebaran itu bukan garis finish, tapi garis start. Start untuk hidup lebih baik, lebih taat, lebih rendah hati.

Sampai jumpa di tempat shalat Id nanti. Jangan lupa, pulangnya lewat jalan berbeda. Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Zād al-Ma‘ād menukil bahwa Nabi pulang lewat jalan berbeda. Hikmahnya, kita bisa menebar salam ke lebih banyak orang. Bayangkan, satu senyum kita bisa jadi obat bagi hati orang lain.

Dan ingatlah, Idul Fitri sejatinya adalah saat kita kembali suci, bersih dari noda, seperti bayi yang baru lahir. Itulah kemenangan yang sesungguhnya.

|Baca juga tentang Ramadhan Power : Mengubah Lapar Menjadi Karya, Mengubah Dahaga Menjadi Pahala

Alfaqir  Akhmad Yunus, Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Yayasan Al Iman Kebumen. Mengelola Daycare dan RA Yaa Bunayya, SDIT Al Madinah, SMP Integral Hidayatullah, Kebumen

 

Tinggalkan Balasan